Menulis Adalah Perjalanan

Oleh: Ustaz Nurkholis Almahfoudz 

Saat kita melakukan perjalanan ke suatu tempat, kita akan melewati, menyaksikan, dan mengalami banyak hal. Misalnya ketika kita mendaki gunung, medan jalan yang bermacam-macam rintangannya, berkelok-kelok naik dan turun yang terkadang aman dan terkadang pula menuntut untuk lebih berhati-hati, berbagai pemandangan yang terhampar di sisi kanan dan kiri bisa kita lihat dan nikmati, serta dinginnya udara yang terkadang disertai rintik hujan akan kita rasakan di sepanjang perjalanan. Semua keadaan tersebut memang harus rela kita alami untuk sampai di puncak yang kita impikan.

Seperti perjalanan mendaki gunung, menulis itu butuh proses yang terkadang mudah dan terkadang pula menguras pikiran dan tenaga. Banyak hal yang harus rela kita alami saat proses menulis. Tapi walau sesusah apapun rintangan yang dihadapi, kalau kita sungguh-sungguh dan rela menjalani setiap prosesnya maka itu semua akan bisa kita lewati demi mencapai tujuan.

Menulis itu butuh proses yang tidak instan, menulis itu perlu dilatih, dibiasakan, dan ditekuni. Di luar sana mungkin banyak orang yang ingin sekali menulis, namun begitu mereka hendak memulainya, tiba-tiba ide-ide yang akan dituliskan menjadi bercampur tak beraturan atau bahkan menghilang. Beberapa kawan ada yang mengatakan bahwa sebenarnya banyak ide yang bisa mereka tuliskan, tetapi begitu mereka mulai menulis, mereka bingung harus memulai dari mana dan akan menuliskan tentang apa hingga akhirnya mereka tak jadi menulis. Ada pula orang yang sudah memiliki ide berlian yang siap dituliskan namun itu semua diurungkan hanya karena ia merasa tak pantas menjadi penulis. Ia suka membayangkan bagaimana kalau tulisannya nanti dibaca banyak orang kemudian para pembaca tersebut kurang tertarik dengan apa yang ia tulis, bagaimana nanti jika tulisannya dibaca oleh orang yang lebih pandai darinya dan seterusnya hingga perasaan-perasaan itu berubah menjadi monster menakutkan yang mengerdilkan nyalinya untuk menulis.

Berbagai contoh problematika yang saya sebutkan di atas merupakan problem yang umumnya dialami oleh setiap orang yang ingin menulis. Sebenarnya, problem-problem itu bukan hanya dialami oleh mereka yang baru akan mulai menulis, tetapi bisa juga dialami oleh orang yang telah menulis, baik itu di pertengahan tulisan atau di akhir tulisannya. Jika setiap orang yang akan menulis itu mudah menyerah dan tak jadi menulis lantaran hambatan-hambatan yang menghadang, maka tak akan ada karya atau buku yang bisa kita baca saat ini dan di masa yang akan datang. Lebih dari itu, generasi-generasi di masa depan akan kehilangan warisan keilmuan yang bisa mencerahkan kehidupannya.

Merasa tidak punya atau kekurangan ide saat hendak menulis adalah tanda bahwa kita kurang membaca/berliterasi, merasa bingung mau menuliskan apa dan seterusnya adalah tanda bahwa kita jarang berlatih menulis, dan merasa tak pantas menjadi penulis atau menghasilkan karya saat hendak menulis adalah tanda kalau kita tak pandai menghargai potensi diri kita sendiri.

Orang bijak mengatakan bahwa perjalanan seribu kilometer itu dimulai dari ayunan langkah kaki pertama. Para penulis ternama yang saat ini kita kagumi adalah mereka yang dulu ketika mulai menulis juga mengalami hambatan-hambatannya tersendiri yang mampu mereka terima dan jalani. Pepatah bijak lainnya juga mengatakan bahwa tak ada gading yang tak retak. Setinggi-tingginya orang memuji dan mengagumi, sebuah karya pasti ada sisi kekurangannya. Jika kita ingin menulis sebuah karya, tulis saja karya itu, nikmati dan banyaklah belajar dari setiap perjalanannya!.

Sewaktu saya dan teman-teman berkunjung ke Pesantren Baitul Kilmah Yogyakarta, Pak Aguk Irawan selaku pimpinan di pesantren tersebut pernah menyampaikan bahwa syarat untuk menulis adalah kita harus mau membaca karya atau tulisan orang lain. Beliau menegaskan bahwa membaca itu adalah untuk menulis. Tepat sekali apa yang disampaikan oleh Pak Aguk Irawan tersebut bahwa rajin membaca adalah bekal utama seorang penulis. Selain menambah ilmu, rajin membaca buku akan membuat kita mendapatkan banyak hal positif lainnya, di antaranya adalah bertambahnya kosakata baru yang bisa kita gunakan dalam menulis, dan berbagai sudut pandang atas suatu hal tertentu yang dapat membuat kita bisa memahaminya lebih mendalam.

Berbagai hal yang terjadi di sekitar kita juga merupakan bahan materi yang bisa kita tulis menjadi sebuah karya. Misalnya berbagai pengalaman yang telah kita atau orang lain alami sangatlah sayang jika dilewatkan begitu saja tanpa dituliskan untuk bisa diambil pelajaran hidupnya. Selain itu, petuah-petuah bijak yang kita dengarkan dari orang-orang sepuh juga bisa menjadi inspirasi kita untuk menulis.

Ide atau gagasan itu sangatlah berharga. Oleh karenanya, saat ada ide yang muncul, segeralah abadikan. Tuliskan ide yang muncul itu ke dalam catatan kecil atau coretan-coretan, kelak jika ada moment yang pas untuk menulis, kita bisa mengembangkan ide-ide yang telah kita abadikan tersebut menjadi sebuah karya!.

Kita bisa menentukan tempat favorit di sekitar yang bisa membuat mood dan spirit kita untuk menulis menjadi baik dan tumbuh. Misalnya di bawah pepohonan yang rindang, di dekat aliran sungai yang jernih, di tepi danau atau telaga yang sejuk, di tempat ngopi yang indah dan lain-lain. Saat kita sudah menemukan tempat favorit untuk menulis, jauhkanlah hal-hal yang bisa mendistraksi seperti Handphone, Televisi, Toxic people, dan hal lainnya. Kemudian yang terakhir adalah mulai menulis. Tuliskan saja ide-ide yang ada dipikiran secara mengalir apa adanya. Saat proses menulis, tak usah kita pikirkan pada bagus atau tidaknya, nyambung atau meloncat-loncat idenya, fokus saja untuk menulis dan menulis karena pekerjaan memperbaiki itu terletak di akhir saat tulisan sudah selesai!.

Sebagaimana saya tuliskan di awal, menulis itu butuh proses. Saat kita menulis, bisa saja akan mengalami writer block, yakni kebuntuan untuk menemukan gagasan baru yang akan ditulis. Pada saat writer block melanda, kita tidak perlu memaksakan diri untuk terus menulis. Tapi istirahatlah sejenak atau pergi refreshing, bertemu dengan teman, makan makanan kesukaan, minum kopi, olahraga atau mencari hiburan untuk menyegarkan pikiran!.

Tak perlu minder terhadap karya yang kita tulis. Pepatah Arab mengatakan idza tamma al-amru bada naqshuhu, jika suatu hal telah selesai dikerjakan, maka akan nampak kekurangannya. Mari terus asah kemampuan!.

Editor: Raihan Zadu Jihad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *