Imam Bukhori dan Ruhiah Orang Tua

Oleh: Aa’ Deni Muharamdani

Dalam tradisi ilmu-ilmu keislaman, kepakaran Imam Bukhari dalam bidang hadis sudah tidak perlu disangsikan. Namanya harum semerbak di lingkaran para sarjana Muslim.

Di antara sebab kemasyhuran Imam Bukhori adalah berkat karya intelektualnya dalam bidang periwayatan hadis. Beliau berhasil menghimpun hadis-hadis shohih dengan standar tinggi, bahkan tertinggi ( syartul Bukhori), yang tidak dicapai oleh kompilasi hadis lainnya.

Saking diterimanya di kalangan ulama, sampai muncul sebuah ungkapan, bahwa kitab tershohih setelah Al-Quran adalah shohihul Bukhori.

Membincangkan kehebatan seorang tokoh besar membawa kita menelisik lebih jauh sisi lain di sekitarnya. Salah satu sisi yang penting diangkat dari Imam Bukhori adalah peran orang tuanya.

Kenapa hal ini menjadi penting? Karena ternyata, di balik kesolehan dan kematangan jiwa seseorang (selain ketekunan dan kerja keras individu) ada peran orang tua yang menjadi penopang penting dalam karir ruhiah dan intelektual seseorang.

Topangan orang tua terhadap kualitas ruhiah dan intelektual seorang anak juga diangkat oleh Az-Zarnuji, penulis kitab Ta’limul Muta’allim.

Dengan pola yang sama akan kita temui hampir di setiap keberhasilan para imam kaum muslimin, baik di tanah air kita maupun di luar tanah air.

Ini juga memperlihatkan akan kekayaan sumber pengetahuan dalam Islam. Ilmu tidak hanya dicapai oleh kekuatan fakultas inderawi yang empiris atau rasional saja, namun juga melalui fakultas non empiris.

Bahkan kebijaksanaan (hikmah) akan sulit diraih tanpa didukung oleh kekuatan ruhiah, karena kematangan ruhiah ini yang akan memancarkan kebijaksanaan.

Karenanya, sangat mungkin ilmu pengetahuan hari ini melebihi capaian orang sebelumnya, namun belum tentu mampu melampaui hikmah (kebijaksanaan) orang dulu. Salah satu faktornya bisa jadi kekeruhan jiwa, masih mudah dikendalikan nafsu, yang menumpulkan pandangan hati.

Dalam Thobaqoh Syafiiyyah Kubro, dilukiskan bahwa ayah Imam Bukhori adalah orang yang sangat waro’, ayah yang senantiasa memerhatikan asupan makanan, tidak merasa puas hanya sekedar halal, tapi halal dengan standar tinggi, terhindar dari syubhat, karena halal sendiri tidak berada dalam satu tingkat, melainkan bertingkat-tingkat.

ترك ما لا بأس به مخافة ما به بأس

Gambaran di atas menjadi contoh perpaduan ideal antara anak dan orang tua. Imam Bukhori seorang petarung sejati ilmu pengetahuan, ahli ibadah, ditopang oleh orang tua yang memiliki kualitas ruhiah yang tinggi. Maka lahirlah seorang muhaddits besar, dialah Imam Muhamad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh Al-Bukhori.

Wallohu ‘alam
_________

Editor: Raihan Zadu Jihad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *