Dakwah di Era Digital Ala Ustadz Zaky A Rivai

ibnuabbasklaten.com-Era digital menandai berubahnya cara masyarakat memperoleh dan memberikan informasi. Tidak heran jika era digital dicap sebagai era percepatan, dimana informasi dengan cepat meluncur ke mana saja dengan sentuhan-sentuhan jemari. Hal ini tentu turut mempengaruhi cara dan pola masyarakat dalam menerima syiar-syiar dan dakwah. Orang dengan mudah mengakses konten-konten dakwah di mana saja, kapan saja. Konten ceramah dan dakwah pun kian beragam rupanya dan itu semua sama-sama bisa diakses oleh siapa saja tidak memandang usia.

Hal ini tentu menjadi tantangan bagi da’i-da’I dalam menjalankan syiarnya di jalan Islam. Beberapa penceramah harus menyesuaikan gaya dakwahnya, yang dari sebelumnya hanya dakwah dari mimbar-ke mimbar, kini, para da’I harus pandai menggaet penonton dari kanal-kanal sosial media terutama Youtube. Tentu, kreativitas sangat diperlukan mengingat lapangan digital adalah lahan generasi milenial berselancar dengan bebasnya. Maka untuk itu, gaya dakwah yang monoton harus ikut berkreasi mengikuti logika digital supaya mendapat pemirsa dan impak yang lebih luas.

Pada kesempatan kali ini, Ustaz Umarulfaruq Abubakar, selaku Host Ibaska TV berkesempatan untuk podcast bersama salah satu aktor muda dan penulis, Ustaz Zaky A Rivai,  pada, Selasa 8 Juni 2021, di Studio Ibaska TV. Mereka berbincang seputar tantangan dakwah di era digital dan pengaruhnya bagi anak.

Bagaimana antum melihat tentang pentingnya kita berdakwah di era digital ini dan seberapa besar pengaruh digital itu bagi pengaruh otak,pemikiran dan perilaku di hidup anak-anak kita?

“Penting sekali karena kita melihat  bahwa media social sekarang sudah seperti menjadi bagian primer. Apalagi setelah adanya pandemic ini, bermunculan kajian-kajian online dan sebagainya. Akhirnya live ig dan seturusnya jadi penting apalagi di masa pandemic ini untuk memanfaatkan moment untuk dakwah”

Ustaz melanjutkan, “Berpengaruh sih berbepengaruh karena sekarang mencari ilmu tidak lagi ke kitab ataupun ustad melainkan lewat postingan-postingan yang ada di social media. Yang dikhawatirkan adalah, kemudian (banyak anak-anak kita) terpengaruh pada pemikiran-pemikiran yang beda. Contohnya, pemikiran soal ateis. Secara ateis itu kan pemahaman yang sebetulnya itu bisa terpatahkan dari bertahun-tahun yang lalu.

Misalkan perkataan, Kalau misalnya semua diciptakan lalu siapa yang menciptakan Allah padahal konsep di dalam Islam sudah jelas bahwa Allah itu Kholik dan kita adalah makhluk jadi bukan semua diciptakan tapi semuanya Allah yang menciptakan.” Jelas Ustaz Zaky

Ustaz Zaky menambahkan, “Yang paling penting adalah kita memaksimalkan media social itu untuk dakwah Islam yang ringan-ringan saja, terutama yang membuat orang-orang gak merasa disalahin dan kemudian juga membangun budaya literasi. Artinya media social kita itu kita buat supaya orang-orang itu punya semangat untuk menambah keilmuannya dengan membaca buku.”

Terkait dengan pilihan untuk berdakwah di era digital ini, ustdaz, kadangkala kita harus terjun ke Lapangan, sementara selain itu ada tanggung jawab yang lain misal seperti belajar, kuliah, dll. Bagaimana cara mensinkronkan tanggung jawab itu dengan berdakwah di lapangan?

“Ya kita harus tau prioritas yang lebih penting dulu. Kalau masih belum bisa mensikronkan, kita bisa buat tim (dakwah).”

Bisa diceritakan, bagaimana wujud kreatifitas Ustaz Zaky dalam berdakwah di dunia digital?

“Saya sebenarnya tidak selalu aktif di sosmed. Waktu saya posting bahas Palestina dan LGBT, postingan (saya) banyak yang ke takedown. Semenjak pandemic ini saya sadar, ternyata dakwah ini terhenti kalau kita tidak fokus ke digital. Makanya saya mencari cara bagaimana dakwah saya tersampaikan lebih luas seperti bikin konten sekiranya 10 slide atau sekira beberapa slide lalu diposting di media social seperti Instagram. Dengan seperti itu malah lebih efektif untuk menggait lebih banyak pemirsa.

Caranya?

“Pertama saya riset dulu usia followers saya kebanyakan usia berapa. Setelah itu dari usia-usia itu kebanyakan dari kota mana. Lalu melihat algoritma dari instagram (misalnya kita minat pada postingan apa, nanti instagram akan mengarahkan kita pada postingan-postingan yang kita minati. Kemudian kita meresearch postingan-postingan apa yang diminati oleh followers kita (misal tentang insecure, tips-tips anak muda, dll. Lalu kita posting tentang itu.

Tonton Videonya hanya di Channel YouTube IBASKA TV, Menebar Inspirasi Qur’ani. [Humas Media : Raihan Z.J]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *