Membangun Manusia yang Saleh (2)

Oleh: Kh. Dr. Muh. Mu’inudinillah Basri, MA. Rahimahullah

Amal saleh itu sebagai bentuk amal keterikatan hubungan kita dengan Allah, yaitu amal ibadah. Melalui ibadah dengan bertaqarub kepada Allah itu amal saleh. Amal saleh juga berkaitan dengan bagaimana kita bisa menjalin hubungan dan berbuat baik kepada seluruh manusia. Jadi orang yang beramal saleh adalah orang yang disekitarnya mendapatkan kebaikan dari dirinya. Maka dikatakan, pertama, amal yang saleh adalah minimal tidak pernah menganggu orang lain, kedua orang lain selalu mendapatkan kebaikan-kebaikan darinya, ketiga murah senyum.

Oleh karena itu, maka ruang lingkup amal saleh dalam sosial yakni semua yang terikat dengannya serta sekelilingnya mendapatkan kebaikan darinya. Allah berfirman:“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak ya tim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki.” (QS. 4:36)

Orang saleh itu, dia di Indonesia tapi ternyata orang yang di Saudi, Cina dan lainnya mendapatkan kebaikan dari dia. Apakah bisa orang Amerika mendapatkan kebaikan dari dia? Bisa, sebab itulah wujud pendidikan Al-Qur’an. Jadi orang yang saleh terhadap Allah, manusia, dan alam semesta selalu berbuat baik. Mereka (orang saleh) tidak melakukan kerusakan terhadap alam semesta kecuali membangun, memperdayakan dengan baik dan memelihara. Maka kemudian, iman yang paling rendah itu menyingkirkan duri dari jalanan.

Allah berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. 2:261)

Selanjutnya, bagaimana kita bisa mencetak anak itu menjadi anak yang saleh? Yakni anak yang cerdas, prigel, dan pintar ilmunya yakni ilmu praktis yang bermanfaat. Islam menganjurkan bahwa semua ilmu harus dipelajari. Permasalahan kita hanya bagaimana cara menyampaikan secara efektif. Sebab amal saleh itu tidak bisa di ceramahkan tapi harus kita bangun. Bagaimana membangun amal saleh? Bagaimana membangun manusia yang saleh? Membangun manusia saleh ada 2 komponen: pertama, orang yang memiliki kemampuan eksploratif. Orang yang mampu mengeksplor, mampu memperdayakan semua potensi yang ada. Kedua, orang yang memiliki kemauan yang kuat. Kemauan  baja tersebut  tidak bisa dihalangi dengan apapun.

Jadi, bagaimana kita membangun kemampuan dan kemauan yang baik? Membangun kemampuan itu pertama dengan kecerdasan berpikir. Latih (mereka para santri) berpikir membangun, yakni dengan cara berpikir yang positif dengan tidak menyalahkan orang lain, bila ada masalah maka diri sendiri yang disalahkan. Contoh luar biasa dalam berpikir positif yaitu Nabi Adam AS saat sebelum dikirim ke dunia. Peristiwa Nabi Adam AS saat itu yang dosa adalah iblis karena menggoda beliau,  tapi beliau tidak pernah menyalahkan iblis yang beliau salahkan adalah dirinya sendiri.

Oleh karena itu dalam konsep berpikir manusia sudah semestinya untuk tidak mencontoh cara berpikirnya iblis. Sebab, iblis itu yang nakal, dia itu yang berbuat durjana. Iblis yang menggoda Nabi Adam AS tapi menyalahkan Allah bukan dirinya sendiri.

Cara berpikir selanjutnya bisa melihat dari  pengalaman Nabi Yusuf AS, sebagai bentuk berpikir yang runtut. Saat itu, ketika beliau menakwilkan mimpi kemudian langsung dipraktikan bagaimana cara mengatisipasi adanya paceklik selama 7 tahun itu. Beliau memberikan arahan, yakni bagaimana mengantarkan orang berpikir secara baik, nasionalis, dan bersama-sama tidak individual.

Indonesia itu hancur karena semua berpikir masing-masing. Padahal kerusakan-kerusakan yang ada di Indonesia karena dilakukan bersama-sama. Contohnya apa? Indonesia mayoritas Islam (katanya) tapi parlemen yang mengusai bukan orang Islam, undang-undangnya bukan Islam, bahkan aturannya tidak menghormati kaum muslimin khususnya ulama. Ternyata kita itu Islamnya masih formalistik bukan substantif.

Maka dari itu saya menekankan, pertama, Al-Qur’an mengajari kita berpikir secara positif dan cerdas. Yang kedua adalah pentingnya pengalaman. Orang itu akan bisa memiliki kemampuan kalau punya pengalaman. Sebagaimana pengalaman nikmatnya Qiyamul Lail, berdo’a, memotivasi diri dengan Al-Qur’an,  membantu teman, bahagianya ketika menjadikan orang tua bisa tersenyum, berziarah ke orang yang sakit, menanam, dan  memelihara bertenak. Semuanya itu kalau orang punya pengalaman dan punya kecerdasan, masyaAllah dia akan luar biasa.

Kedua, cara menjadikan orang itu punya kemauan. Orang itu kalau ingin punya kemauan kuat walaupun anak kecil umur 3,5 tahun bisa menghafal Qur’an jauh lebih banyak dan cepat dari pada orang tua sudah 100 tahun. Artinya orang yang punya kemauan itu menghafalkan Qur’an bisa cepat tetapi kalau orang gak punya kemauan akan lama. Oleh sebab itu, kalau memang memiliki kemauan pasti punya planning, sehingga itu pasti dilakukan. Untuk itu, kemauan yang bertekad baja itu penting. Obsesi itu penting.

Bagaimana membangun kemauan anak yang kuat? Pertama, melatih dengan kecerdasan otak, hati, dan berpikir. Kedua, dengan mananamkan idealis. Pendidikan yang paling penting itu menanamkan idealis dan cita-cita yang tinggi, bahwa cita-cita saya adalah ridho Allah. Ridho Allah itu sangat murah dibayar dengan kematian. Orang kalau sudah siap mati untuk cari ridho Allah, maka tidak ada yang ditakuti.

Obsesi itu penting banget kalau orang punya kemauan kuat, bahkan harta dan istri tidak akan menghalangi dia untuk berjuang. Hanzhalah bin Abi Amir seorang Sahabat besar, dia punya obsesi masuk surga, karena dia tau surga. Dia melihat hatinya dengan surga. Dia mengatakan: “Ya Rasulullah kami ini kalau pas di sisimu surga dan neraka di pelupuk mata, tapi kalau sudah pulang dengan anak dan istri banyak lupa ya Rasulullah.” Balas Nabi : “engkau kayak begitu ya? Coba kalau imanmu begitu tinggi itu disalami malaikat di tempat tidur dan di jalan-jalan kalian”. Artinya apa? Orang yang punya kemauan yang tinggi untuk masuk surga, kematian itu kecil. Kemudian, orang yang ingin surga dan takut neraka mau disogok berapa itu tidak akan bisa.

Kisah lain seperti Said bin al-Musayyib punya anak putri, anaknya di lamar oleh anak raja. Yang lamar berkata: “Ya said telah datang kepada anda dunia dan isinya.” Said menjawab: “oh engkau ngasih kabar gembira saya dengan 1 sayap nyamuk.” Kisah ini memberikan hikmah bahwa dunia dan seisinya seperti sayap nyamuk, maka anak tersebut Said tidak diberikan kepada anak raja.

Kemauan yang kuat, yakni dengan segala orientasi hidup kita hanya ridho Allah dan surga. Maka dari itu, kalau orang punya idealis kuat (seperti kisah  Nabi Sulaiman dan Ratu Bilqis) mau disogok berapapun tidak akan mau. Oleh karena itu, kita harus harus membangun orang-orang yang saleh. Kesimpulannya, orang saleh adalah mereka yang memiliki idealis tinggi, kemauan, kecerdasan, dan pengalaman.[]

 

Sumber: YouTube Islamic Studio Record || Transkip Audio: Raihan Zadu Jihad, Amd || Editor: Riki Purnomo, S.Sos.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *